Showing posts with label Sosial-Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sosial-Budaya. Show all posts
3

SI "PITUNG" DARI BANTEN

Bagi kita yang kenal film si Pitung, tentu tahu mengenai legenda si pitung yang suka merampok ke rumah-rumah orang kaya belanda lalu kemudian uang hasil rampokan dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Si Pitung yang merupakan cerita Legenda dari Betawi akrab di telinga kita karena cerita tersebut di film kan di layar televisi. Salah satu kelebihan dari si Pitung adalah tahan terhadap peluru dan kuat terhadap tebasan golok sehingga membuat si pitung berani merampok dan melakukan perlawanan terhadap para tentara Belanda. 

Kini, si Pitung seperti hadir dalam diri Wawan alias Tb Chaeri Wardana yang merupakan adik dari Gubernur Non Aktif Banten, Ratu Atut Chosiyah. Wawan yang dikenal juga sebagai suami dari Walikota Tanggerang Selatan Airin Rahmi Diani sedang tersandung dalam kasus korupsi (suap) Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Muchtar dalam kasus Pilkada Lebak – Banten dan Kasus Korupsi Alat Kesehatan (Alkes) Pengprov Banten dan juga tuduhan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dilakukan dengan melibatkan beberapa aktris cantik.

Jika meliat sepak terjang nya, tentu ada kesamaan antara Wawan dengan Si Pitung, disamping sama-sama lelaki, wawan juga dikenal suka bagi-bagi kepada yang lain. Bedanya, jika si Pitung suka membagi-bagikan harta orang kaya untuk orang miskin yang kelaparan, justru wawan suka mengambil harta masyarakat guna dibagi-bagikan kepada orang yang sebetulnya sudah berada dalam batas kategori berkecukupan. 

Orang-orang yang mendapat kucuran “uang haram” dari wawan diantaranya adalah para anggota DPRD Provinsi Banten dan juga artis-artis cantik Ibu Kota yang justru secara keberadaan materi, bisa dikatakan mereka sudah lebih cukup daripada masyarakat banten yang justru ironisnya lagi menurut banyak pemberitaan di media, jumlah rakyat miskin dan penderita gizi buruknya cukup banyak. 

Selain itu, Banten sebagai sebua provinsi, dari total APBD nya hanya memiliki jumlah APBD sebesar 7 Triliun per tahun. Dari jumlah yang hanya sebesar itu – jika dibanding DKI dan Jawa Barat – APBD Banten masih lah sangat kecil harus dikorup pula dalam pengelolaan anggaran yang olehh notabene masih saudara dari Sang Gubernur nya sendiri. 

Sungguh Ironis memang apa yang terjadi pada diri Wawan alias Tubagus Chaeri Wardana ini. Disamping dia sebagai seorang adik dari Gubernur Banten, dia juga merupakan seorang suami dari Wali Kota Tanggerang Selatan. Apabila dilihat dari kecukupan materi, Wawan beserta keluarga sudah memiliki banyak kelebihan dibanding rakyat Banten itu. Tetapi nafsu akan dunia menjadikan nya ingin seperti “menguasai” segala-galanya sampai pulau pun dibeli dan puluhan mobil mewah dikoleksi. Padahal dua mobil saja sudah pasti tidak akan bisa dikendarai secara bersamaan, apalagi puluhan mobil. 

Apakah anugerah memiliki istri cantik, anak-anak yang sehat serta kecukupan materi masih kurang dimata Wawan? Ataukah memang nafsu dunia yang tidak akan pernah bisa memutus keinginan dari dalam diri? 

Kelak, si pitung dari Banten ini, yang melakukan perbuatan yang sama seperti si pitung dari betawi akan merasakan akibat dari apa yang telah dilakukan olehnya. Jika si Pitung saja yang secara niat sudah baik meskipun dengan cara yang tidak baik akan mati, apalagi Wawan yang secara perbuatan dan niat nya pun bisa dikatakan tidak baik. Akhirnya semua hanya bisa jadi pelajaran untuk kita yang hanya bisa melihat dari layar televisi.
0

Tentang Sebuah Kehormatan #1


Di dunia ini, selain harta dan pasangan yang baik, manusia berusaha mengejar pula tahta. Dalam tahta ada sesuatu yang menjadi nilai lebih sehingga orang mati-matian dan bahkan sanggup menumpahkan darahnya guna mendapatkan kehormatan ini. Dalam semboyan Barat, ketiga hal tersebut disebut dalam istilah ‘Gold, Gospel dan Glory”. 


Dalam konteks masyarakat Indonesia, kehormatan dan tahta tidak berselaras kedudukannya. Dijaman dahulu, persoalan tahta tidak berhubungan dengan kehormatan, karena persoalan tahta diturunkan secara turun temurun dalam lingkungan keluarga, yaitu keluarga kerajaan. Yang bersisa dalam dada masyarakat Indonesia hanyalah kehormatan, yang bercampur antara kehormatan pribadi dan kehormatan keluarga.

Istilah yang sering berkembang dalam menjaga kehormatan ini biasa ditemukan apabila akan ada pernikahan. Biasanya seseorang seperti dalam adat jawa diperlihatkan apabila memilih calon pasangan hidup, mereka harus melihat “bibit, bebet, bobot”. 

Dalam konteks yang sebenarnya, kenapa ada istilah bibit, bebet dan bobot” adalah sebagai cara untuk menjaga nilai kehormatan yang ada pada keluarga sehingga kehormatan itu tetap bisa melekat dan dipertahankan. Karena kehormatan keluarga, bukan pada seberapa banyak harta yang dimiliki, dan seberapa tinggi jabatan sang kepala keluarga, melainkan pada seberapa baik perilaku sang pewaris nama keluarga. 

Dalam sisi nilai, kehormatan sebenarnya bersifat abstrak. Kehormatan itu tidak berbentuk dan ukurannya berbeda tergantung budaya mana yang mengukur dan memberikan tolak ukurnya masing-masing. Karena dia abstrak, maka kebudayaan masing-masing dari suku bangsa itu memberikan tolak ukur, dan tolak ukur yang paling realistis di alam materiil ini adalah materi itu sendiri, dengan tambahan perasaan (norma) yang ada dan berlaku. 

Maka dari itu, kenapa dalam menentukan pewaris keluarga harus ada syarat dan kriteria dikarenakan syarat dan kriteria itulah yang menjadi ukuran-ukuran materiil yang bisa ditentukan kadar cukup atau tidaknya, sehingga dari syarat dan kriteria tersebut seseorang bisa disebut pantas atau tidak menjadi pewaris kehormatan keluarga.
 

Translate

Search This Blog